Banner
Statistik
  Visitors : 211449 visitors
  Hits : 2178 hits
  Today : 1 users
  Online : 1 users
Agenda
20 August 2019
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
KAJIAN ROHIS NURUL QOLBY

TIK KLOP DENGAN PENDEKATAN HUMANISTIK

Tanggal : 23-01-2019 10:11, dibaca 296 kali.

TIK KLOP DENGAN PENDEKATAN HUMANISTIK
Oleh : Tri Dyah Kumorowati, S.Pd

Dinda tersipu malu seraya tersenyum ketika personal digital story telling tentang dirinya diperlihatkan di depan kelas oleh guru. Melalui layar in-focus, rangkaian foto masa kecil Dinda hingga kelas 8 SMP diperlihatkan. Tak hanya rangkaian foto, Dinda juga mengiringi digital story telling yang merupakan PR pelajaran bahasa Indonesia itu dengan musik yang asyik. Seketika seisi ruangan kelas  8 siang itu bergema. Ketika suara musik merendah,  suara Dinda terdengar jelas dan artikulatif memaparkan biografi pribadinya. Walaupun sedikit malu tapi Dinda senang karena teman-temannya benar-benar menyimak sajian presentasi Dinda dalam pelajaran keterampilan berbicara bahasa Indonesia.

Di lain waktu, Daffa, kelas 8, menikmati pelajaran menulis karangan argumentasi di ruang komputer. Uniknya, guru Daffa tidak meminta siswa menulis dibuku catatan atau MS Word tapi di sosial media Facebook. “Yakin Pak…?” Begitu reaksi siswa awalnya, mereka saling pandang tidak percaya. “Yayakin,” balas sang guru Bahasa Indonesia itu. Sebelum memulai, semua siswa dan guru diminta saling menambahkan pertemanan sehingga dapat saling terkoneksi.  Kemudian guru mengirim posting, “Hi… siswaku tersayang, setujukah kamu apabila siswa SMP dilarang menggunakan telepon genggam? Ayo berargumen dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan lupa sertakan data yang valid dalam argumenmu.” Daffa dan siswa lain harus merespon di kolom komentar dengan semangat. Padahal selama ini Daffa, terkenal sebagai siswa yang tidak suka menulis. Melalui sosial media itu, siswa memberi argumentasi dengan positif. Di akhir pelajaran, guru mencetak semua hasil diskusi di Facebook tadi dan mendiskusikannya dalam pelajaran mengarang argumentasi.

Dua contoh di atas merupakan gambaran sekilas bagaimana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membantu proses belajar dan mengajar di era ini.  Dinda dan Daffa tidak sekadar memperhatikan dan menyerap informasi pembelajaran tetapi mereka menikmati proses belajar tersebut.  Mereka tidak sekadar belajar tetapi mulai mengaktualisikan diri. Oleh sebab itu,  ketertarikan memanfaatkan TIK dalam belajar merupakan ciri utama generasi saat ini.

Dua contoh di atas memberi pelajaran berharga kepada para pendidik. Pertama, siswa di abad 21 memiliki cara yang berbeda dalam menyerap informasi dan pengetahuan. Hal  ini berkaitan dengan kenyataan hari-hari ini bahwa sejak kecil mereka telah akrab dengan TIK. Swenson (2006) seorang pakar di bidang bahasa dan teknologi di Amerika mengungkapkan bahwa generasi abad  21 ini telah dilanda tsunami informasi, ia menyebut digital-media-saturated lives. Singkatnya,  ia mengatakan pola kehidupan generasi saat ini dipengaruhi trend TIK.

Melihat perbedaan yang lebar antara generasi abadi industry dan abad informasi ini, maka pelajaran kedua yang dapat diperoleh adalah pendekatan pembelajaran. Ini penting, karena  trend telah berubah. Sementara banyak pendidik masih belum beranjak dari abad industri. Mereka Terbelenggu oleh pendekatan konvensional bahkan tradisional. Tidak heran sering sekali pendekatan kuno itu bertabrakan dengan pola perilaku siswa zaman milenial ini. Gelombang informasi yang  dahsyat ini membentuk pola perilaku,  sikap dan cara siswa dalam menerima pengetahuan.

Lalu pertanyaan penting yang  perlu disodorkan adalah pendekatan pembelajaran model apa yang pas  dengan siswa zaman now ini. Terutama dalam pelajaran bahasa Indonesia yang mencakup keterampilan berbicara, menulis,  membaca dan mendengar. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dipinjam kajian yang dilakukan oleh Harry Samuels (2013) yang mengatakan bahwa pendekatan humanistik sangat klop dengan trend perkembangan saat ini. Mengapa?

Samuels (2013) dalam artikelnya 20th-Century Humanism and 21st-Century Technology:A Match Made in Cyberspace, mengungkapkan usai masa keemasan pendekatan behavioristik tahun 1950-an maka muncul apa yang disebut pendekatan konstruktif. Filosofi dasar konstruktivisme adalah perasaan nyaman dan percaya diri siswa merupakan hal yang utama. Oleh karena itu, penting memberi seluas-luasnya ruang kepada siswa untuk mengekspresikan perasaan, minat, harapan dan impian.

Pendekatan ini juga sering disebut dengan pendekatan humanistik. Makanya, inovasi teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi trend saat ini merangkul erat pendekatan humanistik. Mengapa begitu? Jelas terlihat melalui beragam TIK siswa dapat mengungkapkan perasaannya, minatnya, ide, gagasan dan harapannya melalui berbagai platform sosial media. Dan perlu dingat empat keterampilan berbahasa diakomodasi selebar-lebarnya oleh berbagai teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Contohnya, Facebook, blog dan Edmodo dapat digunakan untuk mengasah keterampilan menulis. Selain itu, digital storytelling, Youtube dan CD interaktif dapat dimanfaatkan untuk belajar menyimak.

Perlu ditambahkan, pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa menurut Harry Samuels selayaknya berbasis kebermanfaatan. Siswa didorong untuk mengaktualisasikan dirinya dalam berbagai keterampilan berbahasa. Aktualisasi tersebut tidak sekadar aktualisasi tetapi memiliki makna untuk diri siswa sendiri maupun orang lain. Di sinilah pentingnya fungsi guru sebagai fasilitator dalam proses belajar.

Guru sebagai fasilitator dalam pemanfaatan TIK bukan sekadar pengawas layaknya mandor di perkebunan. Oleh karenanya, eksistensi guru sebagai fasilitator sangatlah penting. Guru dapat memastikan bahwa siswa tidak tersesat di belantara informasi dan tidak tenggelam oleh arus teknologi komunikasi dan informasi. Peranan guru memberi jalan bagi siswa untuk mengaktualisasikan diri mereka berdasarkan filosofi humanistik tadi.

Untuk mewujudkan pemanfaatan TIK yang mampu memberi ruang aktualisasi siswa maka yang perlu dilakukan adalah mengubah cara pandang yang pada akhirnya mengubah pendekatan. Guru, mau tidak mau, harus menyadari cara belajar anak-anak sekarang berjarak bagaikan langit dan bumi dengan generasi sebelumnya. Lantas, pendekatan humanistik mengajarkan relasi positif antara guru dan siswa, maka yang tercipta adalah kolabarasi. Ketika itu terbangun maka siswa merasa nyaman mengekspresikan gagasannya.

Siswa selalu meng-update informasi yang mereka miliki. Tidak mau kalah, sebaiknya para guru juga harus selalu ngeh dengan trend yang ada. Keseimbangan kolaborasi akan tercipta. Maka tidak hanya Dinda dan Daffa yang akan menikmati belajar dengan TIK tapi juga siswa-siswa lain di Indonesia.



Pengirim : Tri Dyah Kumorowati, S.Pd
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas